Tentang Siberut
Status Pulau Siberut PDF  Array Cetak Array  Surel
Ditulis oleh Administrator   
Rabu, 23 Maret 2011 15:29
AddThis Social Bookmark Button
pantai-siberut-pasihdocPulau Siberut dikenal memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan didalamnya hidup masyarakat asli Mentawai yang memiliki salah satu kebudayaan tua di Indonesia


Pulau Siberut dengan luas ± (4.030 km²) merupakan salah satu pulau terbesar dari empat pulau yang ada di Kepulauan Mentawai yang terletak di lepas pantai Sumatera Barat. Pulau Siberut terletak disebelah khatulistiwa diantara koordinat 0º 80’ sampai 2º 00’ Lintang Selatan dan 98º 40’ Bujur Timur. Jarak terdekat antara Pulau Siberut dan Pulau Utama (Sumatera) adalah kira-kira 128 km dan jarak langsung antara Padang dan Pulau Siberut adalah kira-kira 155 km dengan melintasi selat Mentawai. Menurut cerita kenapa Pulau ini diberi nama Siberut, karena di Pulau ini terdapat banyak Tikus dan Babi.

Secara administratif Pulau Siberut termasuk dalam wilayah Kabupaten Kepulawan Mentawai yang berdiri pada tahun 1999 berdasarkan UU No.49 tahun 1999. Siberut terbagi atas empat Kecamatan: yaitu Kecamatan Siberut Utara, Kecamatan Siberut Selatan, Kecamatan Siberut Tengah dan Kecamatan Siberut Barat.

Berdasarkan defenisi dan karakteristik pulau-pulau kecil yang ditetapkan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (2000)³, keseleluruhan pulau di Mentawai diklasifikasikan sebagai pulau-pulau kecil, baik dari segi fisik (luas pulau), segi ekologis (proporsi species endemic dan terisolasi), maupun keunikan sosial budaya. Secara fisik, pulau-pulau di Mentawai berukuran kecil atau berukuran kurang dari 10.000 km² dengan jumlah penduduk yang kurang dari 500.000 jiwa.

Secara ekologis, pulau-pulau di Mentawai telah terpisah dari pulau induknya (mainland island), yaitu Pulau Sumatera selama 500.000 tahun yang lalu oleh gletster (suzuki 1958, dalam LIPI 1995), serta memiliki batas fisik yang jelas dan terisolasi dari habitat pulau induk sehingga bersifat insular. Akibatnya pulau-pulau di Mentawai memiliki proporsi species endemik yang lebih besar dari pada pulau yang terdapat di Pulau Sumatera.
Terakhir Diperbaharui pada Rabu, 23 Maret 2011 16:03
 
Perjuangan Konservasi Siberut PDF  Array Cetak Array  Surel
AddThis Social Bookmark Button

Usaha konservasi Siberut telah dimulai sejak tahun 1970-an, yang ironisnya lebih belakangan dari usaha penebangan hutan komersial skala besar. Berdasarkan rekomendasi LSM World Wild Fund (WWF) dan saran dari kajian ilmiah, pemerintah menetapkan Teiteibati Suaka Margasatwa di bagian tengah Siberut pada tahun 1976. Dua tahun berselang, status 6,500 ha Suaka Margasatwa itu ditingkatkan menjadi Suaka Alam Teitei Bati dan diperluas menjadi 56,500 ha (14% total luasan Siberut). Pada tahun 1982, area Teiteibati diperluas menjadi 132,900 ha.

Selengkapnya...
 
Sosial Budaya dan Ekonomi PDF  Array Cetak Array  Surel
AddThis Social Bookmark Button

cult-peop-koen-2004-08-110Masyarakat asli pulau Siberut adalah suku Mentawai. Organisasi sosial masyarakat Mentawai di Siberut merupakan warisan dari struktur sosial politik egaliter dari jaman neolitik. Orang Mentawai mengelompok ke dalam Uma, sistem keluarga patrilineal yang egalitr dan otonom secara politik. Masing-masing Uma terdiri 5 sampai 10 keluarga monogami dengan jumlah anggota berkisar 30-60 orang.

Pada tahun 1930, populasi di pulau Siberut diperkirakan 9.000 orang. Jumlah itu meningkat tiga kali lipat. Pada tahun 2001, populasi Siberut adalah 31.695 orang, dengan kepadatan penduduk sekitar 8 orang/km². Perkiraan jumlah penduduk usia produktif (15-55 tahun) tahun mencapai 62% pada tahun 2000. Data tahun yang sama menunjukan sekitar 70% penduduk Siberut bekerja sebagai petani dan pengumpul hasil hutan dan sekitar 23% bekerja sebagai nelayan. Sisanya bekerja sebagai pegawai dan di bidang jasa lainnya. Tingkat pendidikan umum penduduk asli sangat rendah, dengan rata-rata tingkat pendidikan hanya sampai sekolah dasar. Mayoritas penduduk Siberut adalah orang Mentawai dan 10% adalah pendatang.

Kegiatan ekonomi orang Siberut didominasi pemanfaatan hutan. Hutan memegang peranan sangat penting sebagai sumber makanan, obat-obatan dan bahan-bahan lainnya. Ekonomi pasar menghubungkan penduduk Siberut dengan jaringan perdagangan produk hutan dan pertanian di tingkat global. Pengaruh dari penyebar agama monoteis secara formal telah menggantikan ajaran agama lokal. Sejak awal kemerdekaan, kontak dengan ide pembangunan, pelestarian alam, dan belakangan kebijakan otonomi daerah turut mempengaruhi proses perubahan, meskipun perubahan tersebut bervariasi dari satu tempat dan tempat lainnya.

people-koen-2004-08-090 forest-peop-albmako-03-117

Struktur Sosial

Masyarakat Mentawai bersifat patrinial  dan kehidupan sosialnya dalam suku disebut ”uma” struktur sosial tradisional adalah kebersamaan, mereka tinggal di sebuah rumah besar yang disebut juga ”uma” yang berada di tanah-tanah suku. Seluruh makanan, hasil hutan dan pekerjaan dibagi dalam satu uma. Struktur sosial itu juga bersifat egalitarian, yaitu setiap anggota dewasa dalam uma mempunyai kedudukan yang sama kecuali ”sikerei” (atau dukun) yang mempunyai hak lebih tinggi karena diyakini dapat berkomunikasi dengan roh dan memiliki kapasitas untuk  mengobati orang sakit dan mampu memimpin sebuah upacara adat.

Makanan pokok masyarakat Mentawai adalah sagu, pisang, dan keladi. Makanan lainnya seperti buah-buahan, madu, dan jamur diramu atau diperoleh  dari hutan atau ditanam  dalam perladangan. Sumber protein seperti rusa, babi, monyet, dan burung diperoleh dengan cara berburu dan ikan dipancing dari kolam atau sungai yang ada disekitar pemukiman.


Secara tradisional uma mempunyai wewenang tertinggi di Pulau Siberut, selama rezim Orde Baru fungsi organisasi sosial uma kurang begitu berfungsi tetapi sejak era reformasi uma mulai digalakkan kembali dibeberapa desa dengan dibentuknya Dewan Adat. Sejak otonomi daerah bergulir direncanakan satuan pemerintah terendah yaitu ”laggai”.

siberut-sosial-budaya

 
Eksploitasi Hutan Siberut PDF  Array Cetak Array  Surel
AddThis Social Bookmark Button

Penebangan kayu skala besar dimulai tahun 1972 ketika pemerintah memberikan ijin kepada 4 perusahaan PT Cirebon Agung and PT Sumber Surya Semesta di Siberut Utara dan PT Carya Pharmin Pulau Siberut dan PT Kayu Siberut di Siberut Selatan. Antara 1972-1993, 3 dari 4 perusahaan tersebut telah memanen total 130,650 ha hutan dengan jumlah produksi 746,155 m3 kayu.

Selengkapnya...
 
Keanekaragaman Hayati PDF  Array Cetak Array  Surel
AddThis Social Bookmark Button

Pulau Siberut secara geografis telah terisolasi dari daratan Sumatra sejak jaman pleistocene, kira-kira 500.000-2.000.000 tahun lalu. Dengan latar belakang keterasingan secara geografis tersebut, pulau ini mengalami evolusi khusus yang menghasilkan kekhasan spesies. Proses isolasi dan tiadanya kolonisasi flora dan fauna dari Sumatra, mendorong terbentuknya tingkat keendemikan yang tinggi dengan keunikan ekologi yang luar biasa. Ini terbukti dengan bentuk fauna pulau Siberut yang lebih primitif dan kuno dibanding dengan Sumatra.

Selengkapnya...